|
Hukum Menyerahkan Zakat Kepada Seorang Yang Tidak Mampu Membiayai Pernikahan |
|
|
|
Fataawa
|
|
Ditulis oleh Terjemah : Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal
|
|
Kamis, 19 Agustus 2010 05:19 |
|
Hukum Menyerahkan Zakat Kepada Seorang Yang Tidak Mampu Membiayai Pernikahan
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah ditanya:
"Ada seorang pemuda yang istiqamah ingin menikah, dan sudah tentu dia membutuhkan bantuan untuk mewujudkan pernikahan tersebut. Apakah boleh bagiku memberikan kepadanya zakat untuk membantu urusan pernikahannya?
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
|
MEMBAGI WARISAN SEBELUM WAFAT |
|
|
|
Fataawa
|
|
Ditulis oleh / Terjemah : Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal
|
|
Selasa, 27 Juli 2010 03:22 |
|
Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah ditanya:
Saya seorang yang telah menikah walhamdulillah, saya memiliki harta dan saya tidak mempunyai anak kecuali seorang anak wanita saja. Saya memiliki seorang saudara laki- laki dan seorang saudara perempuan dari ayah saya. Anak perempuan saya diberi kemudahan dalam hal materi dan dia menginginkan agar aku mencatat semua harta peninggalan yang dikhususkan untuk pamannya , yaitu saudara laki- lakiku. Demikian pula halnya saudara perempuanku, dia menginginkan hal yang sama seperti saudara laki-lakinya.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
BAGAIMANA ANDA MENCERCA SESEORANG? |
|
|
|
Fataawa
|
|
Ditulis oleh / Terjemah : aL-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al Bugisi Hafizhahullah
|
|
Minggu, 18 Juli 2010 08:27 |
|
Syaikh Rabi bin hadi Al-Madkhali hafizhahullah ditanya:
"apakah boleh seseorang dijarah (dicerca) dengan sebab yang diperselisihkan bahwa itu cercaan, ataukah seseorang tidak dicerca kecuali dengan sesuatu yang disepakati saja?"
beliau menjawab:
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
|
HUKUM MEMAKAI SEPATU HAK TINGGI |
|
|
|
Fataawa
|
|
Ditulis oleh Syaikh bin baaz rahimahullah
|
|
Senin, 28 Juni 2010 02:15 |
|
Syaikh bin baaz rahimahullah ditanya:
"Apa hukum islam memakai sepatu berhak tinggi?"
Beliau menjawab :
"Minimal hukumnya makruh disebabkan beberapa hal:
1. Mengelabui orang dimana wanita tersebut terlihat tinggi padahal hakekatnya tidak demikian
2. Dikhawatirkan wanita tersebut dapat terjatuh
3. Memudaratkan kesehatan seseorang sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para dokter.
(al-jami' lifatawa almar'ah almuslimah: 568)
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
HUKUM WANITA KELUAR RUMAH |
|
|
|
Fataawa
|
|
Ditulis oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah
|
|
Sabtu, 26 Juni 2010 00:24 |
|
Syaikh Al-Albani rahimahullah ditanya:
"apa hukum syariat tentang pekerjaan mubah yang dilakukan seorang wanita di luar rumahnya, dalam keadaan dia meninggalkan anak-anaknya diasuh oleh pendidik atau pembantu wanita muslimah?
Beliau menjawab:
"Asal hukum dalam masalah ini adalah firman Allah Azza Wajalla yang diarahkan kepada para wanita umat ini terkhusus isteri-isteri Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:
وَقَرنَ فى بُيوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجنَ تَبَرُّجَ الجٰهِلِيَّةِ الأولىٰ ۖ
"dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu
(QS.Al-Ahzab:33)
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 Berikutnya > Akhir >>
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |